MAKNA DENOTASI dan KONOTASI
Abdul
Chaer (1995: 65) menyatakan bahwa perbedaan makna denotasi dan konotasi
didasarkan pada ada tidaknya “nilai rasa” pada sebuah kata, terutama yang
disebut kata penuh. Mempunyai makna denotasi, tetapi tidak semua makna itu
mempunyai makana konotasi. Sebuah kata disebut mempunyai makna konotatif
apabila kata itu mempunyai “nilai rasa” baik positif maupun negatif.
Makna
denotasi pada dasarnya sama dengan makna referensial sebab makna denotative ini
lazim diberi penjelasan sebagai makna yan sesuai dengan hasil observasi dai
pengihatan, penciuman, pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainya. Jadi
dapat disimpulkan bahwa makna denotative ini adalah makna yang menyangkut
informasi-informasi faktual objektif. Makna denotative ini sering disebut
dengan “makna sebenarnya”.
Misalnya
: Wanita dan Perempuan
Pada
dasarnya kata tersebut memiliki makna denotatif. Tetapi dapat di bedakan karena
memiliki nilai rasa yang berbeda. 1) kata perempuan memiliki nilai rasa yang
“rendah” 2) kata Wanita memiliki nilai rasa yang “tinggi”. Hal ini terbukti
pada suatu lembaga yaitu Dharmw wanita, Ikatan Wanita Pengusaha.
Makna
konotatif dapat disebut dengan makna tambahan atau makna kiasan. Makna
konotatif dapa berubah dari waktu ke waktu. Misalnya pada kata Ceramah dulu
kata ini berkonotasi negative yang berarti cerewet tetapi sekarang berkonotasi
negatif.
Zaenal
dan Amran (2008: 28) menyatakan bahwa makna denotatif adalah makna dalam alam
wajar secara eksplisit. Makna wajar ini makna yang sesuai dengan apa adanya.
Sering juga makan denotative ini disebut makna konseptual. Misalnya: kata makan
bermakna memasukkan sesuatu ke dalam mulut, dikunyah, dan ditelan. Sedangkan
makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbu sebagai akibat dari
sikap social, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah
makna konseptual. Misalnya kata makan bermakna konotasi untung atau pukul.Makna
konotasi berkembang dari zaman ke zaman. Ia tidak tetap. Misal kata kamar kecil
makna denotatifnya kamar yang kecil tetapi makna konotatifnya jamban.
Wiyanto
dalam Mangatur (2009: 74) menyatakan makna denotasi adalah makna yang mengacu
pada referensinya, yaitu makna yang ada dalam pikiran pemakainya. Makna
denotasi tertulis dikamus. Makna konotasi tidak tertulis dikamus. Makna konotasi
adalah mana yang didasarkan atas perasaan atau pikiran yang timbul atau
ditimbulkan oleh pembicara atau pemdengar. Adi makna konotasi adalah makna
tambahan yang timbul berdasarkan nilai rasa seseorang.
Fatimah
(2009: 12) makna konotatif yang dibedakan dari makna emotif karena yang yang
disebut pertama bersifat negative dan yang disebut kemudian bersifat positif.
Makna konotatif adalah makna yang muncul dari makna kognitif (lewat makna
kognitif) edalam makna kognitif tersebut ditambahkan komponen lain. Misalnya:
1) Perempuan
itu ibu saya
2) Ah,
dasar perempuan
Makna
perempuan pada kalimat pertama mengandung sifat keibuan, kasih sayang, lemah
lembut, berhati manis. Pada kalimat kedua secara psikologis perempuan tersebut
mengandung suka bersolek, suka pamer, egoistis.
Menurut
KBBI (2008: 313) Denotasi adalah makna kata atau kelompok kata yang didasarkan
atas penunjukan yang lugas pada sesuatu di luar bahasa atau yang didasarkan
atas konvensi tertentu dan bersifat objektif.
Menurut
KBBI (2008: 725) Konotasi adalah tautan pikiran yang menimbilkan nilai rasa
pada seseorang ketika berhadapan pada sebuah kata; makna yang ditambahkan pada
makna denotasi.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa mana denotasi dan konotasi sangat berkaitan dengan
hubungan pemakaian bahasa. Setelah melihat beberapa referensi. Kesimpulanya
makna denotasi adalah makna yang sebenarnya atau makna yang muncul dengan
adanya fakta atau kejadian yang benar-benar adanya. Sedangkan makna konotasi
adalah makna kiasan yang digunakan sebagai tambahan pada makna denotasi. Makna
ini sangat banyak digunakan oleh pengarang-pengarang pada sebuah puisi. Makna konotasi ini adalah
makna yang ditimbulkan melalui nilai rasa seseorang.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zaenal dan Amran Tasai. 2008. Cermat
Berbahasa Indonesia. Jakarta: Akademika Pressindo
Chaer,
Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar
Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Djajasudarma, Fatimah. 2009. Semantik 2 Pemahaman
Ilmu Makna. Bandung: Refika Aditama
Mangatur. 2009. Telaah Buku Teks Bahasa Indonesia
SMA. Pekanbaru: Universitas Islam Riau
Tidak ada komentar:
Posting Komentar